Dugaan Mafia Anggaran Di Dishub dan DPRD Banten, Kejati Dituding Tutup Mata, Kenapa?

Kamis, 20 Maret 2025 - 00:15 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sejumlah aktivis dan masyarakat sipil menyoroti proyek-proyek fiktif dan mark-up yang terjadi dalam anggaran Dishub Banten. (Dok. Samudi)

Sejumlah aktivis dan masyarakat sipil menyoroti proyek-proyek fiktif dan mark-up yang terjadi dalam anggaran Dishub Banten. (Dok. Samudi)

Metrosiar – Dugaan korupsi di Dinas Perhubungan (Dishub) dan DPRD Banten kembali mencuat.

Proyek Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) yang telah menelan anggaran lebih dari Rp 16,5 miliar sejak 2018 hingga 2024 diduga kuat sarat dengan praktik korupsi.

Ironisnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten justru terkesan diam dan tidak menindaklanjuti laporan masyarakat.

Sejumlah aktivis dan masyarakat sipil menyoroti proyek-proyek fiktif dan mark-up yang terjadi dalam anggaran Dishub Banten.

Sejumlah indikasi kuat menunjukkan adanya mafia anggaran yang melibatkan oknum pejabat di Dishub serta anggota DPRD Banten.

Proyek Sarana Angkutan Umum Massal (SAUM) yang telah menelan anggaran lebih dari Rp 16,5 miliar sejak 2018 hingga 2024 diduga kuat sarat dengan praktik korupsi.

Ironisnya, Kejaksaan Tinggi (Kejati) Banten justru terkesan diam dan tidak menindaklanjuti laporan masyarakat.

Sejumlah aktivis dan masyarakat sipil menyoroti proyek-proyek fiktif dan mark-up yang terjadi dalam anggaran Dishub Banten.

Sejumlah indikasi kuat menunjukkan adanya mafia anggaran yang melibatkan oknum pejabat di Dishub serta anggota DPRD Banten.

Baca juga:  Semangat Ramadan: Kolaborasi LMP dan JULEHA Bagikan Takjil untuk Warga Rajeg

Skandal Proyek SAUM: Anggaran Besar, Hasil Nol!

Investigasi yang dilakukan oleh kelompok masyarakat mengungkap beberapa kejanggalan dalam proyek SAUM:

  1. Bus yang dibeli dengan uang rakyat tidak pernah beroperasi, hanya menjadi besi tua.
  2. Pembangunan halte dilakukan di titik yang sama setiap tahun, diduga sebagai modus mark up anggaran.
  3. Anggaran jasa konsultasi bernilai miliaran rupiah tanpa hasil nyata uang rakyat menguap begitu saja.
  4. Proyek yang terus berjalan setiap tahun tetapi tidak memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Selain itu, anggaran pokok-pokok pikiran (Pokir) DPRD diduga menjadi pintu masuk bagi para oknum pejabat dan legislator untuk memperkaya diri.

Alih-alih digunakan untuk kepentingan masyarakat, anggaran Pokir justru menjadi alat transaksi politik dan proyek titipan.

Kejati Banten Dipertanyakan: Kenapa Diam?

Masyarakat mempertanyakan sikap Kejati Banten yang hingga kini belum melakukan tindakan konkret terhadap kasus ini.

Sejumlah laporan dan aksi protes sudah dilakukan, tetapi belum ada satu pun pejabat yang diperiksa.

Baca juga:  Petani Padi Desa Patra Manggala Kecamatan Kemiri Merugi, Pembeli Gabah Raib Tanpa Jejak

“Kami melihat Kejati Banten hanya berani menindak rakyat kecil, tetapi tumpul terhadap kasus besar seperti ini. Jangan sampai Kejati menjadi benteng pelindung bagi mafia anggaran!” ujar Suprani, Koordinator Lapangan dalam aksi yang digelar di depan Kantor Kejati Banten.

Tuntutan Masyarakat:

1. Panggil dan periksa Kepala Dishub Banten, Tri Nurtopo!

2. Bongkar keterlibatan DPRD dalam permainan anggaran proyek Pokir di Dishub dan dinas lainnya.

3. Lakukan audit forensik terhadap seluruh anggaran Dishub Banten sejak 2018 hingga 2024.

4. Copot dan adili pejabat Dishub yang terlibat dalam skandal ini.

5. Kejati Banten harus segera menindaklanjuti laporan dan tidak menjadi pelindung koruptor.

6. Gubernur Andra Soni harus mencopot Kadishub, jika tidak, patut dipertanyakan ada apa di balik ini.

Jika dalam waktu dekat tidak ada tindakan tegas dari Kejati Banten, masyarakat mengancam akan melakukan aksi lebih besar dan mendesak pencopotan Kepala Kejati Banten yang dinilai gagal menegakkan hukum.(*)

Sumber Berita: Media Siber

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!
Minggu Kasih Tigaraksa Bikin Heboh, Kehadiran Polisi Jadi Sorotan
Kartini Belum Usai! Srikandi Banten Siapkan Perayaan Spektakuler Penuh Kejutan
TNI Perketat Keamanan di Wilayah PT Freeport Indonesia Usai Gangguan KKB
Muscab PKB Tiga Daerah: Nama Lama Mendominasi, Siapa yang Akan Terpilih?
Sampah Jadi Uang! Warga RW 12 Kutabumi Siap Jalankan Program Bank Sampah
Rakernis Bidkum 2026 Dibuka, Kapolda Banten Tekankan Hukum Harus Adaptif dan Berkeadilan
Aset Amburadul & Pajak Menunggak, Pemda Ngada Bergerak!
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 27 April 2026 - 23:31 WIB

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!

Minggu, 26 April 2026 - 21:09 WIB

Minggu Kasih Tigaraksa Bikin Heboh, Kehadiran Polisi Jadi Sorotan

Minggu, 26 April 2026 - 18:56 WIB

Kartini Belum Usai! Srikandi Banten Siapkan Perayaan Spektakuler Penuh Kejutan

Minggu, 26 April 2026 - 14:12 WIB

TNI Perketat Keamanan di Wilayah PT Freeport Indonesia Usai Gangguan KKB

Minggu, 26 April 2026 - 11:40 WIB

Muscab PKB Tiga Daerah: Nama Lama Mendominasi, Siapa yang Akan Terpilih?

Berita Terbaru

Kondisi rangkaian KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line mengalami kerusakan parah akibat tabrakan di Stasiun Bekasi Timur yang menewaskan sejumlah korban.

Peristiwa & Bencana

Tragis! Korban Tewas Tabrakan KA Argo Bromo dan KRL di Bekasi Timur Bertambah

Selasa, 28 Apr 2026 - 07:39 WIB

Puluhan buah durian hasil panen tersusun rapi di teras rumah warga sebelum dipasarkan, menunjukkan melimpahnya hasil panen durian

Advertorial

Durian Pelali Tak Habis-Habis, Ternyata Ini Penyebabnya!

Senin, 27 Apr 2026 - 23:31 WIB

Foto Ilustrasi/Gemini

Hukum & Kriminal

Daycare Little Aresha, Ruang Penitipan yang Menjelma Jadi Labirin Trauma

Minggu, 26 Apr 2026 - 17:28 WIB