Buka Data, Bukan Prasangka: Menyikapi Polemik Seleksi RSUD Labuan dan Cilograng

Avatar photo

Jumat, 2 Mei 2025 - 22:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Kamaludin
‎(Dok. Aktivis Pemerhati Kebijakan Publik & Politik)

Foto : Kamaludin ‎(Dok. Aktivis Pemerhati Kebijakan Publik & Politik)

Metrosiar – Proses seleksi pegawai di RSUD Labuan dan RSUD Cilograng yang kini menuai polemik seharusnya dijernihkan dengan nalar publik yang sehat, bukan dibakar oleh opini liar tanpa bukti.

Tuduhan adanya manipulasi sistem, praktik titipan, hingga tudingan kolusi yang digulirkan di tengah masa sanggah resmi, justru mengindikasikan bahwa suara publik tengah direduksi oleh narasi emosional bukan diperkuat dengan argumentasi faktual.

Rekrutmen ini telah menggunakan sistem Computer Assisted Test (CAT), yang secara desain teknis dirancang untuk menutup ruang intervensi manusia.

Setiap peserta menerima hasil ujian secara real-time, transparan, dan terekam digital. Maka, klaim adanya manipulasi skor tanpa menyodorkan bukti forensik yang dapat diuji secara sah, bukan hanya absurd secara logika, tapi juga sembrono dalam etika komunikasi publik.

Sorotan terhadap kebijakan afirmasi domisili pun tampaknya dibingkai secara bias. Afirmasi adalah kebijakan afirmatif, bukan kompensasi mutlak.

Skor tambahan yang diberikan bersifat terbatas dan tidak dapat menggeser peta kelulusan secara drastis.

Baca juga:  Bupati Tangerang Resmikan Layanan Drive Thru di Panongan, Dorong Kemudahan Administrasi dan Stabilitas Pangan

Maka, narasi “nilai tinggi tapi tidak lolos” tanpa mengungkap komponen nilai total dan posisi akhir dalam ranking, hanyalah fragmen cerita yang dipaksakan menjadi kebenaran tunggal.

Lebih disayangkan lagi, ketika ruang sanggah yang disediakan secara resmi justru tidak dimanfaatkan secara maksimal.

Sebaliknya, opini media digunakan sebagai alat tekanan yang tidak bertanggung jawab.

Ini bukan bentuk kontrol sosial, melainkan delegitimasi prosedur yang dilandasi oleh frustrasi atas hasil—bukan oleh temuan atas cacat sistem.

Kita juga tidak dapat menutup mata bahwa kritik terhadap sistem seleksi kerap dijadikan kedok untuk menutupi kegagalan kelompok tertentu dalam kompetisi terbuka.

Ketika harapan personal tidak terwujud, sistem dituduh korup. Ini adalah bentuk kekerasan simbolik terhadap meritokrasi dan penghinaan terhadap ribuan peserta lain yang berjuang secara jujur.

Pernyataan bahwa rumah sakit daerah kini menjadi “sarang KKN” bukan saja hiperbolik, tapi juga tidak berdasar hukum.

Apakah telah ada audit? Apakah telah ditemukan pelanggaran administratif atau etik? Jika belum, maka label itu tidak lebih dari fitnah terbuka, yang berpotensi merusak legitimasi institusi pelayanan publik.

Baca juga:  Gubernur Banten Hadiri Perayaan Tri Suci Waisak: “Dengan Menghormati Sesama, Banten Bisa Maju”

Demokrasi memang memberi ruang kritik, tapi bukan ruang fitnah. Kritik yang sehat lahir dari data, metodologi, dan kanal resmi.

Sebaliknya, agitasi politik yang disamarkan sebagai “kontrol sosial” justru melemahkan institusi, mencemari kepercayaan publik, dan menghambat laju reformasi birokrasi yang sedang dibangun dengan susah payah.

Ruang sanggah telah dibuka. Saluran resmi tersedia. Maka, bagi pihak-pihak yang merasa dirugikan, ajukanlah bukti, bukan asumsi.

Transparansi tidak akan pernah lahir dari tekanan populis, melainkan dari keberanian menguji prosedur secara legal dan logis.

Kini saatnya kita semua, terutama mereka yang mengaku sebagai representasi suara publik, menunjukkan tanggung jawab moral dan intelektual.

Jangan gadaikan integritas birokrasi demi kepentingan pragmatis. Demokrasi bukan sekadar bersuara tetapi juga soal berani berpikir jernih, bersikap adil, dan menghormati prosedur.(*)

Penulis : Kamaludin

Editor : Ahmad

Sumber Berita: Kamaludin ‎(Aktivis Pemerhati Kebijakan Publik & Politik)

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Posyandu Pasar Kemis Dibidik Jadi yang Terbaik di Banten, Tim Kabupaten Turun Langsung!
Gelar Perkara Tuntas, Polda Banten Hentikan Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen
Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia
Bulan Muharram Bulannya Allah Ini Amalan dan Keutamannya
SPENSA Bajawa Gelar Festival Talenta Terbesar, Akademik, Olahraga dan Seni Bersatu dalam Satu Panggung
Kutabumi Bikin Optimistis, Bidik Juara Lomba Kelurahan 2026
Diduga Terlibat Korupsi MBG Beredar 20 Nama Petinggi
Tanda Tanda Keruntuhan Israel Ungkap Wamenlu RI
Berita ini 32 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:21 WIB

Posyandu Pasar Kemis Dibidik Jadi yang Terbaik di Banten, Tim Kabupaten Turun Langsung!

Sabtu, 13 Juni 2026 - 15:18 WIB

Gelar Perkara Tuntas, Polda Banten Hentikan Kasus Dugaan Pemalsuan Dokumen

Sabtu, 13 Juni 2026 - 14:00 WIB

Partai Gelora Dorong Percepatan Energi Nuklir, Dinilai Jadi Kunci Kemandirian Energi Indonesia

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:58 WIB

Bulan Muharram Bulannya Allah Ini Amalan dan Keutamannya

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:30 WIB

Kutabumi Bikin Optimistis, Bidik Juara Lomba Kelurahan 2026

Berita Terbaru

Nusantara

Bulan Muharram Bulannya Allah Ini Amalan dan Keutamannya

Sabtu, 13 Jun 2026 - 10:58 WIB