Metrosiar – Di berbagai kesempatan, Basuki Tjahaja Purnama, atau yang akrab disapa Ahok, kerap mengungkapkan pandangannya soal jabatan yang pernah diembannya di PT Pertamina (Persero).
Dalam beberapa siniar, ia terang-terangan menyatakan bahwa dirinya lebih ingin menjadi Direktur Utama dibanding Komisaris Utama.
Namun, di lain waktu, ia justru menyebut bahwa kesempatan itu pernah datang, tetapi akhirnya ia memilih tetap sebagai Komisaris Utama. Lantas, bagaimana kisah di balik keputusan ini?
Pertemuan yang Menentukan
Ahok bercerita sejak akhir tahun 2022 hingga pertengahan 2023, dirinya tidak bertemu dengan Presiden Joko Widodo. Namun, ketika akhirnya mendapat kesempatan untuk bertatap muka, tawaran menjadi Direktur Utama pun muncul.
“Pas diterima ketemu, ditawarin jadi Dirut. Saya mau kan saat itu,” ungkapnya dalam sebuah video yang beredar pada awal Maret 2025.
Namun, meskipun ada pembicaraan tersebut, realisasi jabatan itu tak kunjung terjadi. Ahok pun tak pernah kembali bertemu Jokowi setelah pertemuan tersebut.
Ia mengaku, menjelang Pemilu Presiden, dirinya kembali dipanggil, dan saat itu ia sudah memahami arah pembicaraan yang akan terjadi.
“Terakhir dipanggil jelang pilpres, saya udah tahu maksudnya, makanya saya bilang jadi Komut ajalah. Toh saya udah kerja bikin Pertamina lebih untung,” ujarnya.
Siap Jika Dipanggil Kejaksaan
Dalam perbincangan yang sama, Ahok juga menyinggung soal kemungkinan dirinya dipanggil oleh Kejaksaan Agung terkait kasus yang melibatkan Pertamina.
Baginya, tidak ada yang perlu ditutup-tutupi.
“Kalau dipanggil, saya siap bantu dan siap kasih data yang diperlukan jaksa,” katanya tegas.
Gaji dan Keputusan Menolak Kursi Dirut
Dalam wawancara yang ditayangkan oleh Narasi TV pada Juli 2024, Ahok sempat mengungkapkan besaran gajinya saat menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina.
Di momen itu, ia kembali bercerita soal tawaran menjadi Direktur Utama yang datang dari Jokowi.
“Beliau (Jokowi) panggil saya, kali ini suruh saya jadi Dirut Pertamina. Saya bilang, ‘Kenapa baru sekarang? Kan udah untung. Saya jadi Komut juga happy kok selama Dirut-nya mau nurut sama saya’. Kan dari rugi terus bisa untung empat tahun terakhir, spesialis sayalah kalau pretelin detail gitu,” ucapnya.
Namun, meskipun gaji Direktur Utama jauh lebih besar, Ahok tetap memilih untuk tidak mengambil posisi itu.
“Kalau ada orang lain, orang lain ajalah. Paling enak jadi Komut, Pak,” ujarnya.
Ketika Najwa Shihab bertanya soal nominalnya, Ahok dengan gamblang menjawab bahwa gaji Direktur Utama bisa mencapai tiga kali lipat dari Komisaris Utama.
“Dirut bisa sampai Rp 500 juta (sebulan),” ungkapnya.
“Kalau Komut?” tanya Najwa lagi.
“Rp 180 juta, kalau itu kan ada untung, 1 sampai 30 persen, dibagi sama pegawai semua. Saya bilang (ke Jokowi) jangan saya, Pak (yang jadi Dirut Pertamina), lebih baik orang lain aja. Karena yang paling banyak jadi orang itu ada duit ada waktu. Kalau jadi Dirut, ada duit enggak ada waktu,” jelasnya.
Pilihan pun telah dibuat. Bagi Ahok, menjadi Komisaris Utama sudah cukup. Ia tetap bisa berkontribusi tanpa harus kehilangan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadinya.(*)










