Metrosiar – Di jantung dataran tinggi Ngada, Flores, berdiri megah Gunung Inerie dan Ebulobo, seolah menjadi penjaga tanah subur yang diselimuti kabut pagi.
Dari lerengnya yang diperkaya abu vulkanik, tumbuhlah kopi Arabika Flores Bajawa, sebuah persembahan alam yang lahir di ketinggian 1.200 hingga 1.800 meter di atas permukaan laut.
Biji kopi ini menyerap kesuburan tanah andosol dan kesejukan udara pegunungan, menghasilkan karakter rasa yang khas dan sarat makna.
Akar Tradisi dan Kehidupan Petani

Kopi Flores Bajawa lahir dari tangan-tangan petani kecil yang merawatnya secara turun-temurun.
Panen dilakukan dengan teliti lebih dari 95% ceri kopi yang dipetik adalah buah merah matang pilihan.
Kebun-kebun kopi di sini dikelola secara organik, di bawah naungan pepohonan rindang yang menjaga ekosistem tetap lestari.
Upaya kolaboratif antara Pemerintah NTT, Dinas Perkebunan, dan Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia sejak 2004 berhasil meningkatkan mutu produksi.
Puncaknya, pada 28 Maret 2012, kopi Flores Bajawa resmi mengantongi sertifikat Indikasi Geografis (IG) sebuah pengakuan resmi atas keunikan rasa dan asal-usulnya.
Ragam Proses yang Menentukan Rasa
Setelah dipanen, biji kopi ini menjalani berbagai metode pascapanen yang memengaruhi profil rasanya.
Metode giling basah (wet-hulling) khas Indonesia memberikan warna hijau kebiruan pada biji, menambah body, dan menurunkan tingkat keasaman.
Sementara itu, metode fully washed menghasilkan rasa yang lebih bersih dan cerah, sedangkan pulped natural menghadirkan keseimbangan manis dan kompleksitas rasa.
Simfoni Aroma dan Cita Rasa

Setiap tegukan kopi Flores Bajawa menghadirkan perjalanan rasa yang kaya. Aromanya mengisyaratkan wangi bunga, diikuti cita rasa karamel, cokelat, jeruk, hazelnut, dan sentuhan herbal.
Varian tertentu bahkan memunculkan nuansa nutty, woody, serta caramel dan cokelat yang diakhiri dengan aftertaste tembakau lembut.
Beberapa catatan cupping menambahkan dimensi rasa unik, seperti lemongrass, green apple acidity, gula merah, hingga sentuhan kayu manis.
Ada pula yang menggambarkannya sebagai kombinasi manis-pahit khas dark chocolate, teh hitam, dan caramel yang berpadu harmonis.
Mengapa Flores Bajawa Begitu Berharga?
- Terroir vulkanik dan ketinggian ideal menciptakan kualitas rasa yang istimewa.
- Perpaduan metode tradisional dan modern menghasilkan profil rasa yang kompleks namun tetap halus.
- Pengakuan Indikasi Geografis (IG) mengukuhkan reputasi dan nilai jual di pasar internasional.
- Dampak sosial: memberdayakan petani lokal, melestarikan budaya, dan memperkenalkan kopi NTT ke panggung dunia.
Flores Bajawa bukan sekadar kopi. Ia adalah cerita tentang tanah vulkanik, kabut pegunungan, keringat petani, dan aroma yang menyatukan tradisi dengan cita rasa global secangkir gunung dengan sejuta cerita di dalamnya.* (Frans Dhena)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Metrosiar










