LeBron James: Sang Raja yang Menantang Waktu, Melampaui Batas, Mengukir Sejarah

Rabu, 5 Maret 2025 - 13:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

LeBron James terus mengukir sejarah, melampaui 50.000 poin dan memecahkan rekor demi rekor di usia 40. Sang Raja belum selesai. (instagram.com/lakers)

LeBron James terus mengukir sejarah, melampaui 50.000 poin dan memecahkan rekor demi rekor di usia 40. Sang Raja belum selesai. (instagram.com/lakers)

Metrosiar – LeBron James tak sekadar bertanding—ia berduel dengan sejarah. Sudah lama ia melampaui rekor pencetak poin terbanyak dalam musim reguler NBA serta torehan tertinggi di babak playoff.

Namun, sang maestro bola basket yang telah menari di pentas profesional Amerika selama lebih dari dua dekade ini terus meninggalkan jejak tak terhapuskan.

Pada suatu malam di New Orleans, sepotong sejarah baru terukir. Dengan satu tembakan di awal laga melawan Pelicans, James melampaui batas 50.000 poin—sebuah pencapaian yang mungkin tak tersentuh selama puluhan tahun, atau mungkin selamanya.

Ia nyaris mencapainya lebih awal di hadapan para penggemarnya di Los Angeles, tetapi takdir menuliskan babak itu di kota lain.

Dan di sana, sebuah tembakan tiga angka yang melayang anggun melintasi ruang dan waktu memastikan namanya semakin abadi.

Rekor demi Rekor: Takdir Seorang Raja

Seolah tak cukup dengan satu pencapaian bersejarah dalam sehari, NBA pun menobatkannya sebagai Pemain Terbaik Wilayah Barat untuk bulan Februari.

Di usia 40 tahun, ia menjadi pemain tertua yang menerima penghargaan tersebut, menyalip legenda Karl Malone yang pernah mencapainya pada usia 37 tahun. Ini bukan sekadar penghargaan, tetapi sebuah penegasan: sang Raja belum selesai.

Dengan penghargaan ini, James telah mengoleksi 41 gelar Pemain Terbaik Bulan Ini, lebih banyak dari siapa pun sepanjang sejarah.

Februari menjadi bulan kejayaannya—10 kemenangan dan hanya dua kekalahan untuk Lakers, dengan rata-rata 29,3 poin, 10,5 rebound, dan 6,9 assist per pertandingan. Akurasi tembakannya pun luar biasa: 55,5% dari lapangan dan 44,3% dari luar garis tiga angka.

Meniti Puncak yang Kian Tinggi

Waktu boleh berlalu, tapi LeBron James menolak tunduk. Bulan lalu, ia menjadi pemain pertama dalam sejarah NBA yang mencetak lebih dari 40 poin dalam lebih dari satu pertandingan di usia 40 tahun.

Baca Juga :  Hasil NBA: Lakers Menang Dramatis atas Knicks Lewat Overtime

Michael Jordan, legenda lainnya, pernah melakukan hal serupa—tetapi hanya dalam satu pertandingan. Kini, James berdiri sendirian di puncak rekor tersebut.

Torehan-torehan ini bukanlah yang pertama. Pada 7 Februari 2023, ia menggeser Kareem Abdul-Jabbar dari singgasananya sebagai pencetak poin terbanyak dalam sejarah NBA, mengakhiri dominasi rekor yang bertahan selama 39 tahun.

Sebelum itu, pada 25 Mei 2017, ia melampaui Michael Jordan sebagai pencetak poin terbanyak di playoff, sebuah rekor yang bertahan hampir dua dekade. Kini, LeBron tak hanya menjadi yang terbaik di musim reguler atau playoff—ia menguasai keduanya.

Saat memasuki laga melawan Pelicans, ia hanya berjarak satu poin dari tonggak sejarah 50.000. Jika menghitung gabungan poin musim reguler dan playoff, tak ada yang mendekatinya.

Di belakangnya, Kareem Abdul-Jabbar (44.149), Karl Malone (41.689), Kobe Bryant (39.283), dan Michael Jordan (38.279) hanya bisa melihat angka yang semakin jauh.

Dari pemain yang masih aktif, Kevin Durant adalah yang terdekat, tetapi dengan selisih lebih dari 15.000 poin, jarak itu terasa bagai dua dunia yang berbeda.

Lakers dan Luka Doncic: Harapan di Ujung Senja

Los Angeles Lakers tengah merajut kisah baru, dipimpin oleh LeBron dan bintang muda berbakat, Luka Doncic. Dengan tujuh kemenangan beruntun, mereka merangsek ke peringkat kedua Wilayah Barat, hanya di bawah Oklahoma City Thunder.

Tiket ke playoff tampak semakin nyata, dan di balik euforia kemenangan, bayangan kejayaan mulai muncul di benak para penggemar.

Kehadiran Doncic menjadi anugerah bagi LeBron. Beban permainan kini terbagi, memberikan ruang bagi sang veteran untuk bernapas dan menari lebih lama di atas panggung NBA.

Mereka bergantian bersinar, tetapi saat bersama, harmoni di antara keduanya menciptakan simfoni yang menjanjikan. Masa depan sudah menunggu Doncic, tetapi masa kini masih milik LeBron.

Baca Juga :  Wakil Gubernur Banten Hadiri Open Turnamen Catur Piala Danrem 064/MY dalam Rangka HUT Korem ke-59
Menantang Senja, Mengukir Keabadian

Dua puluh dua musim telah berlalu sejak LeBron pertama kali menginjakkan kaki di panggung NBA—tujuh di Lakers, sebelas di Cleveland, dan empat di Miami.

Hanya segelintir pemain yang mampu bertahan selama dua dekade, dan di antara mereka, hanya ia dan Vince Carter yang menembus musim ke-22.

Jika ia memutuskan untuk kembali tahun depan, rekor baru akan tercipta, dan sekali lagi, ia akan berdiri sendirian di puncak.

Namun, meskipun waktu terus berjalan, tak ada tanda-tanda ia akan melambat. Dengan rata-rata hampir 25 poin per pertandingan musim ini, ia masih menjadi salah satu pencetak angka terbaik liga, peringkat ke-13 dalam daftar top skor, serta peringkat kelima dalam assist.

Sepanjang kariernya, ia telah meraih empat gelar Pemain Terbaik Musim Reguler, empat kali MVP Final (dari empat cincin juara: 2012, 2013, 2016, 2020), dan tiga kali MVP All-Star Game. Ia mencatatkan rekor dalam jumlah tembakan terbanyak yang berhasil, menjadi yang kedua dalam lemparan bebas (hanya kalah dari Karl Malone), serta kelima dalam jumlah tembakan tiga angka, di bawah Stephen Curry, James Harden, Ray Allen, dan Klay Thompson.

Dengan kemenangan atas Pelicans, LeBron kini menyamai Tim Duncan di peringkat ketiga dalam jumlah kemenangan terbanyak di musim reguler (1.001), hanya tertinggal dari Kareem Abdul-Jabbar (1.074) dan Robert Parish (1.014).

Namun, bagi LeBron James, catatan angka hanyalah angka. Sejarah terus ia tulis dengan langkah-langkahnya di lapangan, dengan tembakan yang menembus batas usia, dan dengan semangat yang menolak surut.

Ia tak hanya bermain melawan lawan di lapangan—ia bertarung melawan waktu, dan sejauh ini, ia masih menang.(*)

Editor : Pedhu Konrad

Berita Terkait

PSSI Tunda Perkenalan John Herdman, Pengamat Sebut Gaya Kepelatihannya Mirip Guardiola
Cole Palmer Siap Tempur, Misi Terakhir McFarlane Sebelum Liam Rosenior Berkuasa
Manchester City Ditahan Chelsea 1-1 di Etihad
Turnamen Futsal Peternakan Cup I Resmi Ditutup, STIPER FB Siap Gelar Pertandingan Antar SMA/SMK
Prediksi Perempat Final Carabao Cup: Cardiff City vs Chelsea
PSN Ngada Diganjar Bonus dari DPRD, STIPER FB dan Karunia Junior & Crew Usai Lolos ke Final ETMC
Camat Pasar Kemis Sambut Pekan Olahraga Kabupaten Tangerang 2025 dengan Semangat Persatuan
Voli Putri PKK Ngada Cup 1: Bajawa Comeback, Golbar Tergelincir
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Januari 2026 - 12:22 WIB

PSSI Tunda Perkenalan John Herdman, Pengamat Sebut Gaya Kepelatihannya Mirip Guardiola

Kamis, 8 Januari 2026 - 01:16 WIB

Cole Palmer Siap Tempur, Misi Terakhir McFarlane Sebelum Liam Rosenior Berkuasa

Senin, 5 Januari 2026 - 03:46 WIB

Manchester City Ditahan Chelsea 1-1 di Etihad

Selasa, 23 Desember 2025 - 19:24 WIB

Turnamen Futsal Peternakan Cup I Resmi Ditutup, STIPER FB Siap Gelar Pertandingan Antar SMA/SMK

Selasa, 16 Desember 2025 - 16:39 WIB

Prediksi Perempat Final Carabao Cup: Cardiff City vs Chelsea

Berita Terbaru