Bukan Saat Pasien Kritis Baru Mencari Darah, PMI Ngada Gandeng Kampus STKIP Citra Bakti Bangun Kesiapsiagaan

Avatar photo

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:13 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Bukan Saat Pasien Kritis Baru Mencari Darah, PMI Ngada Gandeng Kampus Bangun Kesiapsiagaan. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Bukan Saat Pasien Kritis Baru Mencari Darah, PMI Ngada Gandeng Kampus Bangun Kesiapsiagaan. (Foto: Elfrat Frans Dhena)

Bajawa.Metrosiar- Ketika seorang pasien membutuhkan transfusi darah, waktu bisa menjadi sangat berharga. Di tengah kecemasan menunggu kabar dokter, keluarga pasien terkadang harus menghadapi perjuangan lain yang tak kalah berat: mencari pendonor dengan golongan darah yang sesuai.

Telepon demi telepon dilakukan. Pesan berantai dikirim ke grup WhatsApp. Informasi disebarkan melalui media sosial. Kerabat, teman, bahkan orang yang tidak dikenal ikut dihubungi, semuanya demi satu harapan: darah tersedia sebelum terlambat.

Dalam situasi seperti itu, keluarga pasien bukan hanya berjuang menghadapi penyakit orang yang mereka cintai. Mereka juga harus berhadapan dengan ketidakpastian ketersediaan darah.

Pemandangan semacam ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa pencarian darah kerap menjadi perjuangan yang baru dimulai ketika pasien sudah membutuhkannya?

Padahal, kebutuhan darah bukan persoalan yang semestinya hanya ditangani saat keadaan mendesak. Di balik setiap permintaan transfusi, seharusnya sudah ada sistem yang bekerja, jaringan pendonor yang dibina, serta koordinasi antarlembaga yang dipersiapkan sejak dini.

Kesadaran inilah yang membuat upaya memperkuat gerakan donor darah menjadi penting. Sebab, darah tidak bisa diproduksi di pabrik. Ketersediaannya bergantung pada kepedulian manusia, kesiapan pelayanan transfusi, serta kerja sama berbagai pihak.

Di Kabupaten Ngada, langkah membangun kesiapsiagaan itu mulai diperkuat melalui kolaborasi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Ngada dengan STKIP Citra Bakti Malanuza.

Jangan Menunggu Keluarga Pasien Berteriak Mencari Darah

Persoalan ketersediaan darah tidak cukup dijawab dengan imbauan agar masyarakat bersedia menjadi pendonor. Lebih dari itu, diperlukan sistem yang mampu mempertemukan kebutuhan pasien dengan ketersediaan darah secara aman, terencana, dan tepat waktu.

Dalam praktiknya, keluarga pasien memang dapat membantu mencari calon pendonor. Namun, upaya tersebut seharusnya menjadi bagian dari solidaritas kemanusiaan, bukan satu-satunya jalan untuk mengatasi persoalan ketersediaan darah.

Ketika persediaan terbatas, keluarga membutuhkan informasi yang jelas dan bantuan koordinasi dari fasilitas pelayanan kesehatan serta jejaring pelayanan darah.

Rumah sakit memiliki tanggung jawab dalam pelayanan pasien dan koordinasi pemenuhan darah sesuai kebutuhan medis. Unit Transfusi Darah (UTD) menjalankan fungsi teknis, mulai dari pelayanan donor, pengujian, pengolahan, penyimpanan hingga distribusi darah sesuai ketentuan.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab mendukung penyelenggaraan pelayanan darah sesuai kewenangannya. Sementara itu, PMI, lembaga pendidikan, komunitas, dan masyarakat dapat mengambil bagian dalam memperkuat gerakan donor darah sukarela.

Setiap unsur mempunyai peran berbeda, tetapi tujuannya sama: memastikan kebutuhan darah ditangani melalui sistem pelayanan yang siap bekerja.

Karena itu, jika kekurangan darah menjadi persoalan yang berulang, solusinya bukan sekadar menggerakkan orang untuk mendonor ketika ada pasien yang membutuhkan. Yang jauh lebih penting adalah membangun kesiapsiagaan sebelum keadaan darurat terjadi.

PMI Ngada Bergerak dari Kampus

Langkah konkret menuju upaya tersebut dilakukan pada Senin, 12 Oktober 2026. PMI Kabupaten Ngada dan STKIP Citra Bakti Malanuza menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) di Markas PMI Kabupaten Ngada.

Baca juga:  Setahun Lancar, Ujungnya Rp1,9 Miliar Raib? Korban Investasi Laporkan URN ke Polda Banten

Kerja sama ini mencakup pemenuhan kebutuhan darah melalui layanan donor darah serta partisipasi dalam berbagai kegiatan bantuan kemanusiaan lainnya.

Kolaborasi tersebut membuka ruang bagi perguruan tinggi untuk terlibat lebih aktif dalam membangun kepedulian sosial, khususnya melalui partisipasi sivitas akademika dalam kegiatan donor darah dan aksi kemanusiaan.

Kampus memiliki potensi besar untuk menjadi bagian dari gerakan ini. Ada mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan, organisasi kemahasiswaan, serta jaringan alumni yang dapat dilibatkan dalam edukasi dan kegiatan sosial.

Potensi tersebut tentu tidak serta-merta menjamin ketersediaan darah. Namun, jika dikelola secara konsisten, kampus dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk memperluas jangkauan sosialisasi donor darah, menjaring calon pendonor yang memenuhi persyaratan, dan menumbuhkan kebiasaan berbagi melalui aksi nyata.

Artinya, gerakan kemanusiaan tidak harus selalu dimulai dari ruang perawatan rumah sakit, ketika keluarga pasien sedang diliputi kecemasan.

Gerakan itu dapat dimulai dari ruang kelas, lingkungan kampus, organisasi mahasiswa, dan komunitas masyarakat, jauh sebelum kebutuhan transfusi muncul.

Sebab, donor darah yang dipersiapkan sejak dini merupakan bagian penting dari kesiapsiagaan kemanusiaan.

MoU Harus Melampaui Seremoni

Dalam penandatanganan kesepakatan tersebut, STKIP Citra Bakti diwakili Ketua STKIP Citra Bakti, Konstantinus Dua Dhiu, S.H., M.Pd., bersama Afrianus Gelu, S.Si., M.Pd., Kepala Bagian Kemahasiswaan, Kerja Sama, Promosi, Humas dan Alumni, serta Prisko Yanuarius Djawaria Pare, S.H., M.H., dari Bagian Kerja Sama, Humas dan Promosi.

Sementara itu, PMI Kabupaten Ngada dihadiri Ketua PMI Romilus Juji, S.T., Kepala Markas Maria Fredirika Trisanti Be, Dominika Ngora dari Unit Transfusi Darah, serta perwakilan PMI tingkat provinsi dan pusat bersama para relawan PMI.

Kehadiran unsur pimpinan kampus, pengelola kerja sama, pelayanan darah, dan relawan menunjukkan adanya keterlibatan berbagai unsur dalam membangun kolaborasi kemanusiaan.

Namun, nilai sebuah kesepakatan tidak berhenti pada penandatanganan dokumen. MoU baru benar-benar bermakna ketika diterjemahkan menjadi program yang berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Karena itu, pelaksanaan kerja sama ini menjadi bagian yang patut diperhatikan.

Seberapa rutin kegiatan donor darah akan dilaksanakan? Bagaimana mahasiswa dan tenaga pendidik dilibatkan? Sejauh mana koordinasi antara kampus dan PMI dilakukan ketika kebutuhan darah meningkat? Dan bagaimana kontribusi kerja sama ini terhadap penguatan jejaring pendonor di Kabupaten Ngada?

Pertanyaan tersebut penting agar kesepakatan tidak berhenti sebagai catatan administratif, tetapi tumbuh menjadi gerakan kemanusiaan yang berkelanjutan.

Keberhasilannya bukan semata-mata diukur dari jumlah kegiatan yang terlaksana, melainkan juga dari konsistensi partisipasi, kepatuhan terhadap persyaratan medis, serta kontribusinya terhadap kesiapan pelayanan darah.

Satu Pendonor, Harapan bagi Sesama

Donor darah merupakan tindakan sederhana yang dapat membawa arti besar bagi orang lain. Namun, gerakan ini perlu dibangun dengan edukasi yang benar agar masyarakat memahami persyaratan donor, manfaat kemanusiaan, dan pentingnya menjaga keselamatan pendonor maupun penerima darah.

Baca juga:  Lahan Tandus, Tapi Pikiran Tak Pernah Tumbang! Kelompok Tani Solidaritas Sulap Bhogipole Jadi Kawasan Produktif

Tidak semua orang dapat mendonorkan darah setiap saat. Ada persyaratan medis yang harus dipenuhi, sementara setiap kantong darah yang terkumpul juga harus melalui pemeriksaan dan pengolahan sesuai standar sebelum digunakan untuk transfusi.

Karena itu, membangun budaya donor darah tidak cukup dengan mengumpulkan sebanyak mungkin orang. Diperlukan pengelolaan yang baik, pendataan yang sesuai ketentuan, edukasi berkelanjutan, dan koordinasi dengan fasilitas pelayanan darah.

PMI dapat memperkuat pembinaan pendonor dan mengoordinasikan kegiatan donor darah. Perguruan tinggi dapat menumbuhkan kepedulian melalui aktivitas akademik dan kemahasiswaan. Pemerintah daerah dapat mendukung koordinasi lintas sektor sesuai kewenangannya, sedangkan rumah sakit perlu memastikan kebutuhan pasien ditangani melalui mekanisme pelayanan darah yang tepat.

Jika semua unsur bergerak secara terkoordinasi, upaya memenuhi kebutuhan darah tidak hanya bergantung pada respons spontan ketika pasien berada dalam kondisi mendesak.

Di sinilah pentingnya mitigasi: mengenali kebutuhan, membangun jaringan, dan mempersiapkan langkah pelayanan sebelum persoalan berkembang menjadi keadaan darurat.

Jangan Biarkan Harapan Datang Terlambat

Kerja sama PMI Kabupaten Ngada dan STKIP Citra Bakti Malanuza membawa pesan bahwa tanggung jawab kemanusiaan dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Kampus dapat menjadi ruang tumbuhnya kepedulian. PMI dapat memperkuat gerakan donor darah. Pemerintah dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menjalankan peran masing-masing dalam mendukung sistem pelayanan darah. Masyarakat pun dapat mengambil bagian melalui donor darah sukarela apabila memenuhi persyaratan medis.

Pada akhirnya, tanggung jawab atas pemenuhan kebutuhan darah tidak dapat dibebankan kepada satu pihak saja. Pemerintah, rumah sakit, UTD, PMI, lembaga pendidikan, dan masyarakat perlu bekerja sesuai fungsi masing-masing.

Yang tidak boleh terjadi adalah ketika pasien membutuhkan darah, keluarga harus menghadapi persoalan itu sendirian tanpa dukungan koordinasi yang memadai.

Kerja sama PMI Ngada dan STKIP Citra Bakti menjadi salah satu langkah untuk memperluas keterlibatan masyarakat dalam gerakan kemanusiaan. Tantangan berikutnya adalah memastikan kolaborasi tersebut berjalan konsisten dan menghasilkan manfaat nyata.

Sebab, kebutuhan darah tidak selalu datang dengan pemberitahuan. Ia bisa muncul kapan saja, ketika seseorang mengalami kecelakaan, menjalani operasi, menghadapi komplikasi persalinan, atau membutuhkan transfusi karena kondisi medis tertentu.

Saat itulah kesiapan benar-benar diuji.

Jangan menunggu keluarga pasien panik mencari pendonor. Jangan menunggu kebutuhan mendesak baru membangun kepedulian.

Bangun gerakan donor darah sejak dini, perkuat koordinasi, dan jadikan solidaritas sebagai bagian dari sistem pelayanan kemanusiaan.

Sebab, bagi seseorang yang sedang berjuang mempertahankan hidup, darah bukan sekadar persediaan. Darah adalah harapan.

Dan harapan itu tidak boleh datang terlambat.*

Follow WhatsApp Channel metrosiar.com untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Prabowo Pilih Kepala BPGMN, Sosoknya Terungkap
Fotografer dan Penghulu Memanas Usai Akad, Gara-Gara Posisi Mempelai
Pascagempa Ngada, Riung Berbenah: Rumah Dipulihkan, Ekonomi Digerakkan, Harapan Dibangun
BSU Rp900 Ribu Siap Cair, Kapan Mulai Dicairkan?
35 Tahun Menanti, Indonesia Akhirnya Taklukkan Thailand dan Juara!
Indonesia Juara! Drama 120 Menit Berakhir di Adu Penalti
Amukan Keluarga Nyaris Pecah di Faobata, Buser Polres Ngada Amankan Terduga Pelaku
Jokowi Soroti Agus Flores: Bukan Pemburu Jabatan, Lebih Memilih Berkarya untuk Negeri
Berita ini 16 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 14 Oktober 2026 - 13:13 WIB

Prabowo Pilih Kepala BPGMN, Sosoknya Terungkap

Rabu, 14 Oktober 2026 - 07:13 WIB

Bukan Saat Pasien Kritis Baru Mencari Darah, PMI Ngada Gandeng Kampus STKIP Citra Bakti Bangun Kesiapsiagaan

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:49 WIB

Fotografer dan Penghulu Memanas Usai Akad, Gara-Gara Posisi Mempelai

Jumat, 9 Oktober 2026 - 09:44 WIB

Pascagempa Ngada, Riung Berbenah: Rumah Dipulihkan, Ekonomi Digerakkan, Harapan Dibangun

Selasa, 6 Oktober 2026 - 19:25 WIB

BSU Rp900 Ribu Siap Cair, Kapan Mulai Dicairkan?

Berita Terbaru

Nusantara

Prabowo Pilih Kepala BPGMN, Sosoknya Terungkap

Rabu, 14 Okt 2026 - 13:13 WIB

Hukum & Kriminal

Fotografer dan Penghulu Memanas Usai Akad, Gara-Gara Posisi Mempelai

Selasa, 13 Okt 2026 - 10:49 WIB