Bajawa.Metrosiar- Gempa bumi boleh mengguncang tanah Flores. Rumah-rumah boleh retak, ribuan warga boleh masih bertahan dalam situasi sulit, dan duka boleh menyelimuti banyak keluarga. Namun ada satu hal yang tak boleh ikut runtuh: mimpi generasi muda Ngada.
Di tengah suasana duka akibat bencana gempa bumi yang masih dirasakan masyarakat, Pemerintah Kabupaten Ngada memilih untuk tetap menatap jauh ke depan. Ketika penanganan korban dan pemulihan pascabencana terus berjalan, investasi untuk masa depan anak-anak daerah juga tak boleh berhenti.
Sabtu (29/8/2026) malam, sebanyak 58 mahasiswa asal Kabupaten Ngada resmi dilepas untuk melanjutkan pendidikan tinggi di sejumlah perguruan tinggi di Pulau Jawa.
Pelepasan itu bukan sekadar seremoni keberangkatan mahasiswa.
Di tengah daerah yang sedang terluka akibat gempa, 58 anak muda itu justru diberangkatkan membawa koper, doa orang tua, harapan keluarga dan cita-cita besar untuk mengubah masa depan.
Mereka menjadi gambaran bahwa di tengah puing-puing dan duka, harapan masih terus berjalan.
Sebanyak 58 mahasiswa tersebut akan menempuh pendidikan di empat perguruan tinggi mitra Pemerintah Kabupaten Ngada.
Sebanyak 8 mahasiswa melanjutkan studi di Universitas Kristen Indonesia (UKI) Jakarta, 7 mahasiswa di UBL Jakarta, 26 mahasiswa di ITSK Malang dan 15 mahasiswa di UST Yogyakarta.
Keberangkatan mereka merupakan kloter keempat dalam program peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui kerja sama dan program beasiswa Pemerintah Kabupaten Ngada dengan sejumlah perguruan tinggi.
Sebelumnya, ratusan mahasiswa asal Ngada juga telah diberangkatkan untuk menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.

Bupati Ngada, Raymundus Bena, menegaskan bahwa bencana yang sedang dihadapi masyarakat tidak boleh menjadi alasan untuk menghentikan langkah pemerintah dalam mempersiapkan masa depan generasi muda.
Menurutnya, Ngada memang sedang berada dalam masa sulit. Duka akibat gempa masih dirasakan masyarakat di berbagai wilayah. Namun justru dalam kondisi seperti itu, optimisme harus tetap dijaga.
“Meski saat ini kita sedang menghadapi bencana gempa bumi, kita lagi berduka, tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus optimis, menyiapkan masa depan anak-anak,” ujar Raymundus.
Pesan itu menjadi penegasan bahwa penanganan bencana dan pembangunan masa depan harus berjalan beriringan.
Pemerintah, kata dia, tidak hanya dituntut hadir ketika masyarakat membutuhkan bantuan akibat bencana, tetapi juga harus memastikan generasi muda tetap memiliki jalan untuk mengejar pendidikan dan masa depan yang lebih baik.
Raymundus pun mengingatkan para mahasiswa agar tidak menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan.
Menurutnya, kesempatan melanjutkan pendidikan melalui program beasiswa merupakan peluang besar yang tidak dimiliki semua anak.
Karena itu, 58 mahasiswa tersebut diminta fokus menjalani pendidikan, menjaga nama baik keluarga dan daerah, serta menyelesaikan studi tepat waktu.
“Kalian harus manfaatkan dengan baik kesempatan ini, pastikan selesai tepat waktu. Banyak di luar sana yang tidak mendapatkan kesempatan,” tegasnya.
Pesan penuh semangat juga datang dari Wakil Bupati Ngada, Bernadinus Dhey Ngebu.
Wabup yang akrab disapa Berni itu meminta para mahasiswa agar berangkat ke Pulau Jawa dengan kepala tegak dan keyakinan penuh terhadap kemampuan diri.
Mereka diminta tidak pernah merasa rendah diri ketika berada di tengah mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Anak Ngada, kata Berni, harus berani, percaya diri dan mampu menunjukkan prestasi.
“Kalian harus percaya diri, jangan minder, kemudian harus berprestasi. Karena adik-adik kalian tahun depan tergantung kalian ini, kita masih diberikan kesempatan oleh kampus atau tidak,” pesan Wabup Berni.
Pesan itu menjadi lebih dari sekadar motivasi.
Perjalanan 58 mahasiswa tersebut bukan hanya tentang masa depan pribadi mereka masing-masing. Di pundak mereka juga tersimpan harapan bagi generasi Ngada berikutnya.
Prestasi, kedisiplinan dan keberhasilan mereka selama berada di bangku kuliah diyakini akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga kepercayaan perguruan tinggi mitra terhadap mahasiswa asal Ngada.
Artinya, mereka tidak hanya membawa koper berisi pakaian dan perlengkapan kuliah.
Mereka membawa nama keluarga. Mereka membawa nama Ngada. Mereka juga membawa peluang bagi adik-adik mereka untuk mendapatkan kesempatan yang sama pada tahun-tahun berikutnya.
Usai doa bersama dan pelepasan resmi oleh Bupati dan Wakil Bupati Ngada, para calon mahasiswa kemudian memulai perjalanan panjang meninggalkan tanah kelahiran.
Mereka diberangkatkan menuju Pelabuhan Ende. Dari sana, perjalanan dilanjutkan menggunakan kapal Dharma Lautan Utama (DLU) menuju Pulau Jawa, tempat mereka akan memulai babak baru kehidupan di Jakarta, Malang dan Yogyakarta.
Malam itu, keberangkatan mereka bukan sekadar perjalanan dari Flores menuju Pulau Jawa.
Mereka berlayar dari sebuah daerah yang sedang terluka, tetapi menolak kehilangan harapan.
Ketika tanah Flores masih diguncang gempa dan banyak keluarga masih berusaha bangkit dari keterpurukan, 58 anak Ngada justru berangkat mengejar masa depan.
Mereka pergi untuk menuntut ilmu. Mereka pergi untuk membuktikan diri.
Dan suatu hari nanti, mereka diharapkan pulang membawa pengetahuan, pengalaman dan kemampuan untuk ikut membangun daerah yang telah membesarkan mereka.
Gempa boleh mengguncang tanah Flores. Duka boleh menguji keteguhan masyarakat. Tetapi mimpi anak-anak Ngada tak boleh ikut runtuh.
Dari tanah yang sedang berjuang bangkit, 58 anak daerah kini berlayar menjemput masa depan.*









