Bajawa.Metrosiar- Dampak gempa bumi Flores di Kabupaten Ngada terus membesar. Hingga Kamis, 20 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA, sebanyak 6.898 rumah warga tercatat terdampak, ribuan warga masih berada di pengungsian, sementara tiga orang dilaporkan meninggal dunia.
Data terbaru Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ngada menunjukkan, gempa telah meninggalkan kerusakan luas di 12 kecamatan. Pemerintah daerah masih terus melakukan pendataan dan verifikasi karena angka tersebut berpotensi terus berubah.
Dari total 6.898 rumah terdampak, sebanyak 1.770 rumah mengalami rusak berat, 1.438 rumah rusak sedang, dan 3.440 rumah rusak ringan. Sementara 250 rumah lainnya masih dalam proses verifikasi untuk memastikan tingkat kerusakan.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, sedikitnya 1.770 kepala keluarga terpaksa mengungsi. Mereka tersebar di berbagai titik pengungsian maupun bertahan di tempat-tempat pengungsian mandiri di sekitar permukiman.
Riung Jadi Titik Konsentrasi Pengungsian, 57 Posko Dipenuhi Warga
Kecamatan Riung menjadi salah satu wilayah dengan konsentrasi pengungsian terbesar. BPBD Ngada mencatat terdapat 57 titik pengungsian dengan 73 kepala keluarga atau 2.523 jiwa yang berada di sejumlah lokasi pengungsian.
Puluhan titik tersebut tersebar di Desa Tadho Induk, Tadho Tengah, Tadho Timur, Sambinasi, Sambinasi Barat, Sambinasi Tengah, Golo Ite, Nangamese, Benteng Tengah, Ite Jaya, Latung, Lengkosambi Barat Daya, Lengkosambi Barat hingga Taen Terong.
Di Kecamatan Bajawa, terdapat dua titik pengungsian di Desa Pape dengan jumlah 28 jiwa. Sementara Kecamatan Aimere tercatat memiliki 12 titik pengungsian yang tersebar di Kelurahan Aimere, Desa Waesae, Kila, Binalwali, Kelurahan Foa, Lekogoko, Aimere Timur, Mawokisa, Kelijego, Legalapu dan Heawea.
Selain pengungsian yang terdata secara resmi, BPBD juga mencatat 147 titik pengungsian mandiri yang tersebar di 12 kecamatan. Warga mendirikan tenda di halaman rumah, samping bangunan, hingga lapangan terbuka karena masih khawatir kembali menempati rumah yang mengalami kerusakan.
Pemerintah Kabupaten Ngada telah menetapkan Kantor BPBD Ngada sebagai Posko Utama Penanganan Bencana Gempa Flores. Posko tersebut menjadi pusat koordinasi, pendataan, informasi dan distribusi bantuan.
Sejumlah posko pengungsian lainnya juga dikelola oleh KODIM 1625/Ngada, antara lain di Posko Paroki St. Petrus Riung, Desa Aimere Timur, Desa Benteng Tawa Kecamatan Riung Barat dan Desa Waesae Kecamatan Aimere.
Jalan Retak hingga Terbelah, 12 Ruas Infrastruktur Terdampak
Guncangan gempa juga meninggalkan kerusakan pada infrastruktur. Sedikitnya 12 ruas jalan dilaporkan mengalami retakan hingga terbelah di sejumlah wilayah.
Kerusakan dilaporkan terjadi di ruas Laja–Boba di Wolongizu, jalan menuju pekuburan umum Rakalaba, jalan masuk Dusun Tukuwaruwaja, ruas Ledhi–Soa, ruas Waepana–Riung di Wulabhara, serta sedikitnya 14 titik retakan pada jalan menuju Desa Wate.
Jalan menuju Kampung Madur–Warunembu juga dilaporkan mengalami kondisi terbelah. Selain itu, retakan terjadi pada jalan poros Desa Wue, 12 titik infrastruktur jalan di Desa Wolomeze 2, jalan raya di sekitar Jembatan Benteng Tawa 5 hingga box duiker menuju SDN Riuminsi dan SMP Satap 2 Riuminsi.
Kerusakan lainnya juga ditemukan pada jalan setapak menuju Wongawela, ruas Wawa–Tenilopijo–Aimere serta ruas Sebowuli–Watu–Ruto.
148 Sekolah dan 85 Kantor Pemerintahan Ikut Rusak
Dampak gempa turut menghantam fasilitas pelayanan publik. BPBD Ngada mencatat sedikitnya 85 kantor pemerintahan terdampak, mulai dari kantor desa, fasilitas pemerintah daerah hingga rumah jabatan.
Sektor kesehatan juga tidak luput dari kerusakan. Sebanyak 75 fasilitas kesehatan terdampak, meliputi puskesmas, RSUD dan posyandu. Selain itu, terdapat 6 fasilitas kesehatan hewan yang mengalami dampak di sejumlah kecamatan.
Di sektor pendidikan, tercatat 148 fasilitas pendidikan terdampak, mulai dari TK, SD, SMP, SMA hingga SMAK.
Sebanyak 60 tempat peribadatan, terdiri dari kapela, gereja dan masjid, juga mengalami dampak akibat gempa.
Kerusakan turut terjadi pada lima fasilitas air minum dan jaringan perpipaan, termasuk jalur Waduk Bhetowaso menuju Bajawa dan Langa, jaringan Mukufoka dan Alojawa, bak penampungan di Desa Waewae dan Taen Terong 2 serta sumber mata air di Desa Were 6 yang terdampak longsor.
Pada sektor pertanian, tiga lokasi fasilitas irigasi dilaporkan rusak. Salah satunya saluran irigasi Soa Futi yang mengalami longsor dan menyebabkan aliran air macet total sehingga sawah serta wilayah sekitar tidak mendapatkan suplai air.
BPBD juga mencatat 7 jembatan terdampak dan 18 bangunan lainnya mengalami kerusakan, termasuk sejumlah gedung di Desa Wolomeze 2, Gedung Pentas Seni Tadho, bangunan di Pantai Watulajar, bangunan dan tower Bandara Soa hingga KDMP di Desa Gamu.
Tiga Warga Meninggal, Puluhan Lainnya Luka-Luka
Bencana ini juga menimbulkan korban jiwa. Hingga pembaruan data pukul 19.00 WITA, BPBD Ngada mencatat 24 orang mengalami luka ringan, 3 orang luka sedang, 16 orang luka berat dan 3 orang meninggal dunia.
Tiga warga yang meninggal dunia masing-masing:
Wilhelmus Sohan (85), warga Desa Tadho Timur.
Geraldus Botu (10 bulan), warga Desa Lengkosambi.
Anastasia Gele Rau (89), warga Desa Masu Kedhi.
Sementara warga yang mengalami luka sedang dan luka berat masih mendapatkan penanganan dari tenaga kesehatan.
Pemerintah Kabupaten Ngada bersama BPBD, TNI-Polri, tenaga kesehatan, relawan dan seluruh unsur terkait terus bergerak melakukan penanganan darurat. Pendataan kerusakan, pelayanan terhadap pengungsi serta distribusi bantuan masih terus dilakukan di berbagai wilayah terdampak.
BPBD Ngada menegaskan seluruh angka tersebut masih merupakan data sementara. Proses pendataan dan verifikasi di lapangan terus berjalan sehingga jumlah rumah rusak, fasilitas terdampak maupun warga yang membutuhkan penanganan masih dapat berubah.
Dengan ribuan rumah rusak, ratusan titik pengungsian dan tiga korban jiwa, gempa Flores kini menjadi ujian besar bagi Ngada. Penanganan darurat terus dikebut, sementara ribuan warga masih berharap bantuan dan kepastian untuk bisa kembali menjalani kehidupan secara normal.*
Sumber: BPBD Kabupaten Ngada, data per 20 Agustus 2026 pukul 19.00 WITA.










