Aceh, Metrosiar – Memasuki bulan kedua sejak bencana hidrometeorologi melanda Aceh pada akhir November 2025, perjuangan warga dan petugas di lapangan masih sangat berat.
Upaya penanggulangan bencana dan distribusi bantuan logistik terus dilakukan di tengah kondisi infrastruktur yang rusak parah akibat terjangan banjir bandang dan tanah longsor yang membawa material lumpur serta kayu gelondongan.
Berdasarkan laporan terbaru dari Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh per 3 Januari 2026, bencana ini telah berdampak pada 18 kabupaten/kota yang mencakup total 202 kecamatan.
Dampak kemanusiaan yang tercatat sangat memprihatinkan, di mana jumlah korban meninggal dunia telah mencapai 542 orang, sementara 31 warga lainnya masih dinyatakan hilang dan dalam proses pencarian.
Secara keseluruhan, tercatat ada sekitar 2,5 juta jiwa warga Aceh yang terdampak langsung oleh bencana besar ini.
Terkait kondisi pengungsian, saat ini sebanyak 231.302 jiwa masih bertahan di 1.008 titik pengungsian yang tersebar di beberapa wilayah.
Meskipun angka tersebut masih sangat besar, jumlah pengungsi mulai menunjukkan tren penurunan.
Hal ini disebabkan oleh sebagian warga yang memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing guna mulai melakukan pembersihan, atau memilih untuk tinggal sementara bersama kerabat yang tidak terdampak banjir.
Medan Berat: Relawan Meniti Kayu Demi Salurkan Sembako

Di tengah duka yang mendalam, upaya distribusi bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari warga tetap menjadi prioritas utama.
Namun, memastikan bantuan sampai secara merata masih menjadi tantangan besar (PR) bagi pemerintah maupun relawan karena sebagian besar akses jalan masih sulit ditembus akibat kerusakan infrastruktur dan tumpukan material sisa banjir.
Momen perjuangan para relawan ini salah satunya terekam dalam unggahan akun Instagram @ummievinasution pada Sabtu (3/1/26).
Video tersebut memperlihatkan kondisi pemukiman warga di Aceh yang dipenuhi oleh batang-batang pohon besar.
Jalan aspal yang lebih tinggi dari halaman rumah tampak hancur dihantam arus, bahkan hingga mengangkat akar-akar pohon besar ke permukaan.
Dalam rekaman tersebut, terlihat seorang relawan harus turun dan meniti puing-puing kayu gelondongan yang melintang di atas genangan air untuk mencapai rumah warga.
Kayu-kayu sisa banjir bandang tersebut kini terpaksa difungsikan sebagai jembatan darurat agar bantuan sembako bisa langsung diterima oleh warga yang masih terisolasi di rumah mereka.*
Editor : Lisan Al-Ghaib









