Bekasi, Metrosiar – Malam itu seharusnya menjadi hari biasa. Perjalanan pulang kerja, rutinitas yang berulang setelah lelah seharian beraktivitas.
Namun, Senin malam, 27 April 2026, berubah menjadi duka mendalam bagi banyak orang, termasuk sebuah keluarga yang kini kehilangan sosok yang mereka panggil dengan penuh sayang, Teteh.
Di tengah kabar kecelakaan KRL dan Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, muncul kisah yang perlahan menyebar di media sosial.
Bukan sekadar angka korban, melainkan cerita tentang seorang ibu muda yang baru saja kembali menapaki rutinitasnya setelah cuti melahirkan.
Kisah itu mencuat dari sebuah tangkapan layar yang beredar di Instagram dan Threads. Sebuah akun bernama @hagiaqi menuliskan kabar yang tak pernah ingin didengar siapa pun tentang keluarganya.
“Teteh aku meninggal di tempat, semoga husnul khatimah dan baru pulang kerja. Tepat hari ini baru mulai kerja setelah cuti melahirkan,” tulis pesan komentar tersebut, dikutip dari akun Threads @jihanwiddya pada Selasa, 28 April 2026.
Hari itu, rupanya bukan sekadar hari kerja biasa. Itu adalah hari pertama sang kakak kembali bekerja setelah beberapa bulan mendampingi bayinya yang baru lahir. Sebuah langkah kecil untuk kembali ke rutinitas, yang justru menjadi langkah terakhirnya.
Dalam unggahan lain, terungkap keseharian sederhana yang kini terasa begitu jauh. Ia biasanya pulang dalam satu gerbong bersama seseorang yang dipanggil ‘Aa’. Namun entah mengapa, malam itu berbeda.
“Hari ini hari pertama teteh mulai kerja lagi setelah beberapa bulan cuti lahirnya Kia. Aa, juga bilang nggak usah kerja lagi biar si Aa, saja yang kerja,” tulisnya dalam unggahan Instagram Story, dikutip dari akun Threads @diaanwulaan.
“Biasa, teteh juga segerbong sama si Aa tiap balik kerja, kenapa malam ini pisah gerbong Teh?”
Pertanyaan itu kini menggantung tanpa jawaban. Sebuah “kenapa” yang mungkin akan terus hidup dalam ingatan keluarga yang ditinggalkan.

Lebih dari sekadar rutinitas pulang kerja, ada banyak rencana kecil yang belum sempat terwujud. Rencana yang sederhana, tapi penuh makna—playdate bersama anak-anak, saling menemani di masa-masa setelah melahirkan, hingga janji untuk hadir menggantikan sosok ibu.
“Teteh juga janji sama aku, aku lahiran nanti Teteh yang akan temani aku sebagai pengganti mamah. Teteh juga bilang nanti kita main bareng, ‘Sama anak kamu Iyaaa,” ungkapnya.
Namun semua rencana itu kini tinggal kenangan.
“Tapi, sekarang teteh pergi secara tiba-tiba begin. Sakit banget Teh, Teteh tiap hari bilang ke aku untuk sering sering liatin Kia. Malam ini Kia tidurnya pules Teh. Stok ASI Kia juga masih ada Teh untuk beberapa hari nanti,” terangnya.
Di balik kalimat-kalimat itu, terasa jelas kehilangan yang begitu dalam bukan hanya tentang seorang kakak, tetapi juga seorang ibu yang harus pergi terlalu cepat, meninggalkan bayinya yang bahkan mungkin belum sempat memahami arti kehilangan.
Unggahan tersebut pun dibanjiri simpati dari warganet. Doa dan pesan duka mengalir, mencoba menguatkan keluarga yang ditinggalkan, meski tak akan pernah benar-benar menggantikan kehilangan yang ada.
“Turut berduka cita untuk ibu bayi dan seluruh keluarga yang ditinggalkan, khususnya buat adik bayi. Semoga sehat dan bahagia selalu ya Nak,” tulis akun @kez*****a.
“Nggak ngebayangin posisi ibu itu, ninggalin anaknya yang masih bayi. Sedih banget,” tulis akun @rey****a.
“Semoga husnul khatimah dan untuk anaknya, tumbuh sehat dan bahagia. Pasti mamamu akan selalu menjagamu,” tulis akun @sus***sm.
Di tengah hiruk pikuk media sosial, kisah ini menjadi pengingat di balik setiap peristiwa besar, selalu ada cerita-cerita kecil yang menyayat hati. Tentang keluarga, tentang janji, dan tentang perpisahan yang datang tanpa aba-aba.(*)
Editor : Lisan Al-Ghaib









