Serang, Metrosiar — Hujan lebat yang mengguyur Kota Serang, Kamis (18/12/2025), tak menyurutkan langkah ribuan buruh yang menggelar aksi unjuk rasa di depan Pendopo Bupati Serang. Namun, di tengah derasnya hujan dan memanasnya suasana, muncul pemandangan tak biasa yang mencuri perhatian.
Dentuman musik house tiba-tiba menggema. Kapolres Serang AKBP Condro Sasongko tampak berjoget santai bersama massa buruh. Sekitar dua ribu peserta aksi yang semula berwajah tegang perlahan larut dalam suasana. Spanduk tuntutan tetap terangkat, tetapi kaki ikut bergoyang mengikuti irama.
“Hujan bukan penghalang. Yang penting aspirasi tetap tersampaikan dan situasi tetap aman,” ujar AKBP Condro Sasongko sambil tersenyum di sela-sela jogetannya.
Aksi joget ini dilakukan saat massa mulai gelisah karena Bupati Serang belum menemui para demonstran. Alih-alih membiarkan emosi memuncak, Kapolres memilih pendekatan unik untuk mencairkan suasana.
“Kalau bisa cair, kenapa harus tegang. Kita jaga kondusivitas bareng-bareng,” kata Condro.

Sejumlah personel pengamanan turut berjoget ringan. Barisan polisi yang biasanya berdiri kaku kini tampak lebih lentur, meski tetap siaga mengamankan jalannya aksi. Pemandangan tersebut langsung disambut sorak, tawa, dan celetukan buruh yang menyebut aksinya bak “demo rasa konser”.
Meski suasana cair, tuntutan buruh tetap disuarakan dengan serius. Dalam orasinya, perwakilan buruh menegaskan tiga tuntutan utama kepada Pemerintah Kabupaten Serang.
“Kami mendesak pemerintah daerah segera menggelar sidang pleno pengupahan, jangan terus ditunda,” tegas Asep Saefullah, salah satu orator dari atas mobil komando.
Tuntutan kedua, buruh meminta kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) 2026 sebesar 12 persen. Mereka menilai kenaikan tersebut sejalan dengan meningkatnya harga kebutuhan hidup.
Selain itu, buruh juga menuntut penetapan kenaikan Upah Minimum Sektoral Kabupaten (UMSK) 2026 agar lebih adil dan berpihak pada pekerja.
Aksi unjuk rasa pun berakhir aman dan kondusif. Demonstrasi yang semula diwarnai ketegangan berubah menjadi penuh gelak tawa, membuktikan bahwa menyampaikan aspirasi bisa tetap tegas, humanis, dan bahkan diiringi joget di bawah guyuran hujan.










