Metrosiar – Penjabat Sekda Ngada, Yohanes C. Watu Ngebu yang akrab disapa Joni Watu menekankan tiga hal penting yang dinilai mampu menjaga praktik pangan lokal.
Ia menilai, saat ini praktik pangan lokal sudah mulai digeser akibat modernisasi.
Hal ini disampaikan Joni Watu ketika mewakili Bupati Ngada, dalam sambutannya saat pergelaran Pesta Pangan Lokal Masyarakat Adat di Festival Budaya Ngada, Senin (29/9/25) di Bajawa.
Dia mejelaskan, Ngada dengan tiga sub etnis besar yakni, Ngadu Bhaga, Soa Seroga dan Riung Seriwu, memiliki kekayaan pangan lokal yang sangat beragam.
Dari ritus panen, pola tanam tradisional, hingga teknik pengolahan makanan yang ramah lingkungan, semua ini ujar Joni Watu adalah kekuatan kita.

Namun lanjut dia, tantangan kita juga nyata, modernisasi telah menggeser banyak praktik pangan lokal, dan jika tidak kita rawat bersama warisan ini bisa perlahan menghilang.
Melalui Pesta Pangan Lokal ini, Joni Watu menekankan beberapa hal yakni;
Pertama, mengangkat pangan lokal sebagai simbol kekuatan budaya dan kemandirian pangan daerah.
Kedua, menguatkan peran masyarakat adat sebagai penjaga utama keberlanjutan pengetahuan kuliner dan pertanian tradisional.
Ketiga, medorong kolaborasi antar komunitas, pelaku UMKM, dan generasi muda dalam memanfaatkan kekayaan pangan lokal untuk menciptakan dan nilai tambah ekonomi, tukasnya.
Dia mengatakan, pesta pangan lokal yang diselenggarakan hari ini adalah perayaan identitas, perayaan warisan leluhur, dan pengakuan atas kearifan lokal, yang telah membentuk peradaban masyarakat adat kita sejak dahulu kala.
Pangan lokal adalah bagian tak terpisahkan dari Kebudayaan Masyarakat Adat Ngada.
Tersimpan Nilai-Nilai Filosofi
Joni Watu mengungkapkan, dibalik setiap jenis umbi-umbian, jagung, padi ladang, hasil hutan serta olahan pangan tradisional yang disajikan saat ini tersimpan nilai-nilai filosofi, gotong royong, keberlanjutan dan rasa syukur kepada alam.
Pesta pangan seperti ini, menjadi momentum untuk mengangkat kembali pengetahuan lokal tentang pertanian, kuliner, dan ketahanan pangan berbasis budaya.

“Mari kita jadikan kegiatan ini, sebagai ruang edukasi, ruang apresiasi, dan ruang regenerasi,” pungkasnya.
Bukan hanya adat yang perlu diwariskan, tetapi juga resep, cara tanam, cara olah, dan filosofi hidup yang menyertainya.
“Kiranya momentum ini sebagai titik tolak pergerakan budaya menuju masa depan. Budaya bukan sekedar masa lalu yang kita jaga, tapi jalan hidup yang terus kita perbarui dan kembangkan, termasuk melalui bidang pangan,” imbuhnya.
Semoga melalui Pesta Pangan Lokal ini, kita tidak hanya mengenang apa yang pernah ada, tapi juga menyusun masa depan yang berakar pada kearifan leluhur dan berorientasi pada kesejahteraan seluruh masyarakat Ngada.
“Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telahterlibat: komunitas budaya, unsur PKK, para peserta, UMKM, pelajar-mahasiswa, dan seluruh elemen masyarakat yang telah berpartisipasi mendukung kegiatan ini. Mari kita rayakan kekayaan budaya Ngada ini dengan semangat kebersamaan, keberlanjutan, dan kebanggaan,” ucap Joni Watu.
Informasi yang diterima, Pesta Pangan Lokal Masyarakat Adat ini, merupakan bagian dari rangkaian besar Festival Budaya Ngada 2025, yang merupakan bagian dari Program Nasional Gerakan Kebudayaan Indonesia (GAYAIN).
Hadir dalam acara ini, Pamong Budaya Ahli Utama Christryati Ariani, Anggota DPRD Ngada Siprianus Ndiwal, sejumlah Kepala OPD lingkup Pemda Ngada, Para Camat, serta Para Kepala Desa.
Pesta Pangan Lokal ini diramaikan oleh 50 kelompok kuliner dari 50 desa se-Kabupaten Ngada.*
Editor : Frans Dhena
Sumber Berita: Metrosiar










