Rakernis KLH di Sidoarjo Bahas Strategi Pengelolaan Terpadu DAS Brantas, Emil Dardak Soroti hal Ini

Jumat, 19 September 2025 - 11:56 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Rakernis KLH di Sidoarjo hasilkan langkah strategis penyelamatan DAS Brantas. Emil Dardak minta pengelolaan terintegrasi lintas daerah. (Foto: Kemenlh.go.id)

Rakernis KLH di Sidoarjo hasilkan langkah strategis penyelamatan DAS Brantas. Emil Dardak minta pengelolaan terintegrasi lintas daerah. (Foto: Kemenlh.go.id)

Metrosiar – Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) melalui Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup (Pusdal LH) Jawa menggelar Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas berbasis lanskap di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (16/9/25).

Kegiatan ini menghadirkan 70 peserta dari berbagai unsur, antara lain Pusdal LH Jawa, Ditjen Gakkum dan Ditjen PPMA KLH, Pemerintah Provinsi Jawa Timur, perwakilan pemerintah kabupaten/kota sepanjang DAS Brantas, serta akademisi dari Universitas Brawijaya dan Universitas Airlangga.

Rakernis dibuka Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, yang berdialog langsung dengan perwakilan dari 16 kabupaten/kota.

Selama lebih dari dua jam, Emil mendengarkan pemaparan kondisi lingkungan di tiap daerah sebelum rapat dilanjutkan ke sesi teknis.

Kepala Pusdal LH Jawa, Eduward Hutapea, mengungkapkan DAS Brantas tengah menghadapi persoalan serius berupa penurunan kualitas air yang telah masuk kategori tercemar sedang hingga berat, serta tingginya sedimentasi akibat erosi lahan di kawasan hulu.

Baca Juga :  Alumni Politik Universitas Indonesia Wajib Hadir Homecoming 2025

“Untuk mengatasinya perlu langkah nyata, seperti pemantauan kualitas air secara real-time dan pengendalian laju sedimentasi,” ujarnya.

Eduward menambahkan, kepatuhan industri terhadap aturan lingkungan, pemulihan fungsi lanskap, serta peningkatan kesadaran masyarakat menjadi kunci keberhasilan pengelolaan Brantas.

Seluruh upaya tersebut, kata dia, harus diwujudkan dalam rencana aksi pemerintah daerah dengan dukungan penuh seluruh pemangku kepentingan.

Sementara itu, Emil Dardak menekankan pengelolaan DAS Brantas tidak boleh dianggap sebagai program sampingan.

Menurutnya, wilayah hulu menghadapi degradasi hutan dan alih fungsi lahan, kawasan tengah terbebani sedimentasi, sementara di hilir pencemaran limbah domestik masih menjadi masalah utama.

“Dibutuhkan kepemimpinan tegas, dukungan anggaran memadai, serta penegakan hukum terhadap industri pencemar tanpa mengabaikan aspek sosial ekonomi,” tegas Emil.

Dalam forum ini, dua pakar turut memberikan masukan. Prof. Eko Ganis Sukoharsono dari Universitas Brawijaya menyoroti pentingnya valuasi jasa ekosistem sebagai dasar kebijakan ekonomi lingkungan.

Baca Juga :  Dua Calon Berebut Kursi Ketua RW 018 Kutabumi, Siapa Paling Meyakinkan?

Sedangkan Dr. Sonny Kristianto dari Universitas Airlangga menekankan perlunya pengelolaan DAS Brantas yang terintegrasi dan berkelanjutan, mengingat sungai ini menjadi sumber utama air minum jutaan warga Jawa Timur.

Rakernis menghasilkan sejumlah langkah strategis ke depan, antara lain pemetaan spasial potensi dan masalah lingkungan, perencanaan tata kelola berbasis karakteristik wilayah, penguatan kebijakan berbasis data dan teknologi, serta integrasi pendekatan jasa ekosistem.

Selain itu, forum juga menekankan pentingnya pemantauan kualitas air secara menyeluruh dan peningkatan partisipasi publik dalam menjaga kelestarian Brantas.

Kesepakatan tersebut menegaskan kembali komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan bahwa penyelamatan Sungai Brantas dari hulu hingga hilir merupakan kebutuhan mendesak demi keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat Jawa Timur.*

Editor : Wodo Ndaya Coya

Sumber Berita: kemenlh.go.id

Berita Terkait

Camat Kemiri Pimpin Pembukaan Pengajian Malam Jumat, Tekankan Kebersamaan dan Integritas”
PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar Raih Peringkat Beyond Compliance Pada Ajang Pengelolaan Lingkungan PROPER 2025
Perpanjang Pajak Kendaraan Tanpa Harus Melampirkan KTP Pemilik Pertama
35% Rampung! Rumah Nyaris Ambruk Ini Kini Bangkit Kembali
Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi
Ngada Dibidik Investor, Ketua DPRD Bongkar Potensi Besar yang Belum Tergarap
Ngada Mulai Dilirik! Dewi Cokorda Sentil Peluang Investasi Pariwisata
Lahan 1 Hektare Digarap! Polda Banten Tancap Gas Tanam Jagung
Berita ini 20 kali dibaca
Rapat Kerja Teknis (Rakernis) Pengelolaan DAS Brantas berbasis lanskap digelar KLH/BPLH melalui Pusdal LH Jawa di Sidoarjo, Jawa Timur, Selasa (16/9). Acara dihadiri 70 peserta dari pemerintah, akademisi, dan pemangku kepentingan. Wakil Gubernur Emil Dardak menegaskan pentingnya pengelolaan terpadu demi keberlanjutan lingkungan.

Berita Terkait

Kamis, 16 April 2026 - 22:03 WIB

Camat Kemiri Pimpin Pembukaan Pengajian Malam Jumat, Tekankan Kebersamaan dan Integritas”

Kamis, 16 April 2026 - 12:04 WIB

PLN Indonesia Power UBP Banten 3 Lontar Raih Peringkat Beyond Compliance Pada Ajang Pengelolaan Lingkungan PROPER 2025

Rabu, 15 April 2026 - 10:40 WIB

Perpanjang Pajak Kendaraan Tanpa Harus Melampirkan KTP Pemilik Pertama

Rabu, 15 April 2026 - 07:27 WIB

35% Rampung! Rumah Nyaris Ambruk Ini Kini Bangkit Kembali

Rabu, 15 April 2026 - 06:50 WIB

Kapolri Turun ke Cikupa, Ungkap Fakta Penting soal Buruh dan Investasi

Berita Terbaru

Sertu Warno bersama pekerja bangunan saat proses pemasangan bata ringan (hebel) dalam program perbaikan rumah tidak layak huni milik Ibu Asih di Desa Patrasana, Kecamatan Kresek, Kabupaten Tangerang.

Daerah

35% Rampung! Rumah Nyaris Ambruk Ini Kini Bangkit Kembali

Rabu, 15 Apr 2026 - 07:27 WIB