Ngada, Metrosiar- Sepinya pasar Bobou belakangan ini menarik perhatian banyak pihak, termasuk Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Ngada, Johanes Radja, saat ditemui media ini di ruang kerjanya, Kamis (25/9/25).
Ia menegaskan bahwa kondisi ini perlu dipahami secara menyeluruh agar tidak terjadi kesalahpahaman dalam menyikapinya.
Johanes menjeleskan, perubahan cara berbelanja masyarakat menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan turunnya omzet para pedagang pasar di Bobou.
Jika sebelumnya pembeli datang langsung ke pasar, kini banyak yang beralih ke pedagang yang memasarkan jualannya melalui kendaraan dengan sitem mobile.
Pergeseran kebiasaan ini menunjukkan perubahan yang signifikan dalam pola konsumsi masyarakat, ungkapnya.
Johanes menyatakan bahwa sepinya aktivitas pasar Bobou bukan saja terjadi saat ini, namun itu sudah terjadi sejak pasar dipidahkan dari pusat kota ke Bobou.
“Sepinya pembeli ini terjadi akibat banyaknya penjual yang mencari pembeli dengan cara menjual dagangannya menggunakan kendaraan baik roda dua maupun roda empat,” ketusnya.
Bahkan lanjut Johanes, ada juga yang tidak segan menjualnya di halaman atau pekarangan rumah masing-masing hingga pinggir jalan dan juga trotoar.
Ditanya terkait penertiban terhadap para penjual atau pedagang tersebut, Johanes mengungkapkan bahwa pihaknya tidak punya kewenangan, karena secara aturan Dinas Perindag hanya bisa melakukan pembinaan di pasar Bobou yang adalah pasar rakyat milik Pemda Ngada.
Meski demikian, Johanes mengakui bahwa pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk membenahi sarana prasarana di pasar Bobou.
Ia juga mengungkapkan bahwa untuk mengatasi sepinya pembeli di pasar Bobou, pihaknya pernah menyelenggarakan aktivitas diseputar pasar itu, seperti olahraga dan jalan sehat dalam lingkup Pemkab Ngada.
Johanes pun menegaskan, akan mencari solusi tambahan untuk meminimalisir sepinya pembeli di pasar Bobou.*
Editor : Frans Dhena
Sumber Berita: Metrosiar










