Metrosiar – Pagi itu, embun masih bertengger di ujung daun, seakan enggan jatuh ke tanah.
Kampung Adat Wogo berdiri dalam diam yang anggun, rumah-rumah adatnya seperti para tetua yang menjaga cerita lama.
Di sinilah, di bawah langit Ngada yang biru pucat, Wakil Bupati Bernadinus Dhey Ngebu berdiri. Senyumnya merekah, matanya menyapu pemandangan seakan hendak merekam setiap lekuk sejarah.
Namun sebelum menapaki perjalanan, Berni begitu ia akrab disapa lebih dulu mengukir momen bersejarah yakni meresmikan Kampung Wogo sebagai Desa Edu-Eco Wisata. Ia berbicara dengan nada yang sarat rasa, bukan sekadar kata.
“Kalau tracking saya pikir selain untuk olahraga juga untuk mengingat kembali sejarah awal Kampung Wogo yang berasal dari Nua Olo,” ujarnya, tatapannya mengarah ke jalur tanah yang membentang.
Langkahnya pun dimulai. Jalan setapak membimbing rombongan keluar dari pelukan kampung. Mereka menembus kebun, meniti tanah yang kadang licin, menyeberangi kali dengan gemericik airnya yang jernih. Sesekali, Berni berhenti, menatap aliran itu.
“Tracking ini juga mengingatkan kita soal sumber mata air yang harus dirawat bersama,” katanya sambil menunduk, seolah berbicara langsung pada air yang mengalir.
Perjalanan terasa seperti membuka lembar-lembar tua yang mengisahkan para leluhur Wogo, dari Nua Olo hingga kini. Warga yang ikut serta bercerita dalam bahasa yang sederhana namun hangat, tentang tanah yang mereka injak dan masa lalu yang mereka jaga.

Ketika rombongan tiba di Pasar Napu Bheto, suasana berubah menjadi pesta indera. Bau jagung rebus berbaur dengan wangi kopi Bajawa, suara tawar-menawar riuh di antara deretan panganan lokal yang memanjakan mata. Berni berhenti di beberapa lapak, mencicipi makanan dengan penuh rasa ingin tahu.
“Napu Bheto dengan kekayaan aneka makanan lokal memberikan pemahaman bahwa Bajawa daerah kita kaya akan makanan lokal yang juga kaya akan aneka gizi,” ujarnya sambil tersenyum pada penjual yang menawarkan kue tradisional.
Di tengah hiruk pikuk pasar, ia mengungkapkan rencananya.
“Kita akan meramu dengan Yayasan Bambu Lestari (YBL) serta Yayasan Kehati untuk jadwal rutin secara berkala acara di Napu Bheto,” ketus Berni Dhey.
Festival Wolobobo, yang membingkai perjalanan ini, bukan sekadar perayaan. Ia adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara hening kampung adat dan riuh pasar rakyat. Dan di hari itu, langkah-langkah Berni Dhey menjahit keduanya menjadi satu cerita: tentang ingatan, tentang alam, dan tentang kehidupan yang terus berdenyut di tanah Ngada.* (Frans Dhena)
Editor : Lisan Al-Ghaib
Sumber Berita: Metrosiar










