Metrosiar, Kota Tangerang Selatan – Kebakaran gudang bahan kimia di kawasan pergudangan Taman Tekno, Kecamatan Setu, Kota Tangerang Selatan, bukan sekadar insiden biasa. Peristiwa ini diduga kuat menjadi biang kerok pencemaran Kali Jaletreng, anak Sungai Cisadane, yang kini berubah menjadi aliran beracun.
Dampaknya nyata dan memantik amarah publik. Ikan-ikan tampak mabuk hingga mati mengapung di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Cisadane. Air yang selama ini menjadi penopang ekosistem dan kehidupan warga kini tercemar zat kimia berbahaya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang Selatan telah turun tangan dengan mengambil sampel air untuk diuji di laboratorium.
“Hasil pengecekan sementara menunjukkan pencemaran diduga akibat kebakaran gudang kimia di kawasan Taman Tekno. Pengambilan sampel dilakukan di empat titik, yakni lokasi kebakaran, aliran air terdampak, gorong-gorong, dan kawasan The Green,” ungkap Pengawas DLH Tangsel Kecamatan Serpong, Firda Yofiyana.
Firda menambahkan, sampel tersebut akan menjalani uji laboratorium di DLH Tangsel dan hasilnya diperkirakan keluar dalam 14 hari kerja.
“Proses uji laboratorium membutuhkan waktu hingga dua pekan,” jelasnya.
DLH Tangsel juga mengeluarkan imbauan keras kepada masyarakat agar tidak mengonsumsi ikan dari aliran kali yang tercemar, mengingat potensi kandungan zat kimia berbahaya.
“Kami mengimbau masyarakat untuk tidak memanfaatkan atau mengonsumsi ikan dari aliran kali tersebut,” tegasnya.
Namun, proses birokrasi yang memakan waktu ini justru memicu kemarahan aktivis lingkungan. Koordinator Koalisi Aktivis Lingkungan Hidup Tangerang (Kalung), Ade Yunus, menyebut pencemaran ini sebagai kejahatan lingkungan serius yang tidak boleh dibiarkan berlarut.
“Kami minta Kementerian Lingkungan Hidup segera menangkap dan memidanakan pemilik gudang kimia tersebut. Ini bukan insiden sepele. Ini momentum bagi KemenLH untuk menertibkan pergudangan dan industri kimia yang berdiri dekat DAS Cisadane,” tegas Ade dengan nada geram.
Ia menilai, lemahnya pengawasan akan membuka peluang terulangnya bencana lingkungan serupa.
“Tak boleh lemah dan lengah. Kalau dibiarkan, Cisadane akan terus jadi korban. Hari ini ikan yang mati, besok bisa manusia,” tandasnya. [red]










